Jangan Sombong : Sepenggal Kisah Nyata dalam Antologi


Jangan Sombong
Sepenggal Kisah Nyata dalam Antologi
Oleh
Mustajib

 

Bagi penulis pemula, yang baru coba serius dan konsisten menulis, terbitnya tulisan walau melalui sebuah antologi merupakah sebuah barokah yang luar biasa. Dan tentunya sangat menggembirakan! Setidaknya itulah perasaan yang saya alami dengan terbitnya antologi Ketika Berada di Titik Nol : Kumpulan Kisah Inspiratif Penuh Hikmat yang digagas (dieditori) oleh Bunda Kanjeng alias Bunda Sri Sugiastiastuti (www.srisugiastutipln.com) yang telah menulis sejumlah buku ajar, novel, puisi, catatan perjalanan serta menerbitkan belasan buku tunggal (solo) dan puluhan buku antologi.

Antologi yang diterbitkan oleh Penerbit OASE Pustaka, Cetakan I Agustus 2024,  dan di-backup sepenuhnya oleh PGRI dan PMA itu menghadirkan 33 tulisan. Salah satu tulisan tersebut adalah hasil goresan pena saya sendiri, dengan judul “Jangan Sombong : Sepenggal Kisah Nyata”. Dalam tulisan ini saya coba memotret salah satu prilaku sosial yang saya anggap sebagai sebuah cerminan kesombongan, sebuah prilaku yang sangat dibenci agama apapun.

Untuk menghindari kesan subyektif yang (mungkin) berlapis-lapis dari pihak pembaca maka saya memilih untuk tidak menceritakan ulang. Melainkan, saya mempersilahkan pembaca untuk membaca langsung sebelum mengonfirmasi apakah benar itu suatu wujud kesombongan atau cerminan subyektifitas saya yang berlebihan dengan menilai perbuatan tersesebut sebagai sebuah kesombongan. Berikut tulisan lengkapnya (setelah judul “Jangan Sombong, Sepenggal Kisah Nyata”).

 

“Jangan pernah meremehkan seseorang, terutama anak kecil yang sudah bisa berpikir akademis, hanya karena alasan ekonomi dan apalagi iri hati serta sombong”

Itulah pesan yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman nyata (wallahu) setelah di masa berstatus sebagai siswa sekolah menengah atas (SMA) diremehkan oleh seseorang yang sudah berstatus sebagai ibu. Rangkaian kejadiannya secara kronologis, dapat saya sampaikan sebagai berikut.

Saya seorang anak udik, terlahir dan besar di dasan Jempong, Bali Buwuh, Desa Darek, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dulu, dasan (dusun) Jempong merupakan bagian dari kampung Bali Buwuh. Setelah pemekaran kampung beberapa tahun lalu, keduanya berpisah, masing-masing berdiri secara otonom sebagai Kampung Dasan Jempong dan Kampung Bali Buwuh. Pun demikian dengan kecamatan, dulu Desa Darek merupakan bagian dari Kecamatan Praya Barat. Kini, Desa Darek menjadi Ibukota Kecamatan Praya Barat Daya.

Saya terlahir dari keluarga berekonomi tandus, bahkan boleh dikatakan minus. Sebagai gambaran, saat berstatus siswa sekolah dasar (SD) di SDN 3 Darek, saya punya dua stel pakaian seragam. Yang beli sendiri adalah seragam pramuka yang karena sudah lama terpakai yoke kanannya sampai terlepas dari kancingnya. Yoke dibiarkan terus berkibar. Sementara yang satu stel lainnya pemberian dari seorang nenek kenalan keluarga saya. Sepatu hanya sepasang. Itu pun dibelikan saat (kalau tidak salah) kelas empat atau lima dengan ukurang yang jauh lebih besar dari ukuran kaki (foot) dengan harapan bisa terpakai sampai kelas enam, bahkan sampai sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP, sekarang SMP).

Kegaringan ekonomi, tidak hanya tercermin melalui kondisi di atas. Ketika masuk SMP, dua-tiga hari setelah masuk SMP, status sebagai siswa nyaris terputus karena tidak mampu membeli kain seragam putih-biru yang disediakan sekolah. Untung ada yayasan yatim piatu yang mengulurkan bantuan. Berbekal surat pernyataan sebagai seorang anak piatu dari pimpinan yayasan, saya akhirnya diperbolehkan membeli segaram di luar sesuai kemampuan. Kain seragam yang terbeli tidak sekualitas dengan baju yang ditawarkan di sekolah. Warnanya pun berda dengan seragam resmi. Selain itu, selama menjadi siswa SMP, saya dibebaskan dari pembiayaan uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Saya hanyak bayar iuran OSIS sebesar 50 rupiah, itupun kalau ada.

Alhamdulillah, Allah Sang Pengasih dan Penyayang di satu sisi memberi ujian dengan kegersangan ekonomi. Namun di sisi lain, kemampuan kognitif, otak atau akademis saya – menurut penilaian diri saya sendiri – sangat “basah” alias cukup cair. Terbukti, di catatan laporan hasil penilaian (rapor) saya, posisi saya ulang alik di ranking 1 s.d 3. Sejujurnya, masih menurut penilaian sendiri, saya bisa terus bertahan di posisi pertama. Namun seringkali saya rasakan ada unsur-unsur primodial (semisal status sosial kawula – darah biru) sebagai basis pelaksanaan ulangan, sehingga saya tidak selalu di posisi teratas. Itu saya ketahui karena kenaifan atau kepolosan sang pesaing-pesaing yang mengaku kadang-kadang diberikan bocoran soal-soal yang akan dikeluarkan dalam ulangan. Putaran “Kisi-kisinya (bocorannya)” terbatas.

Sewaktu di SMP, prestasi akademis saya tidak terlalu jelek juga, walau tidak pernah menjadi juara umum 1 dan 2, atau 3. Namun – jika tidak salah ingat -- mendekati angka 3 pernah, terutama di kelas akhir.  Namun jika peringkat kelas dipakai sebagai ukuran, jika tidak salah ingat, terus leading bertengger di posisi puncak, kecuali di semester 1 dan 2. Di semester 1, saya tidak ikut ulangan umum. Beberapa minggu sebelum ulangan umum semesteran, saya terserang tipes yang hampir merenggut nyawa. Walau tidak ikut ulangan umum, akumulasi nilai yang saya peroleh dari tugas- tugas dan ulangan harian, saya dapat menyalip di atas 85% dari total siswa yang ada di kelas saya. Di semester kedua, langsung mendepak pemegang peringkat dua dan tiga, atau mungkin yang pertama. Entahlah!

Kurangnya latihan-latihan mengerjakan soal-soal berstandar nasional, baik, secara mandiri maupun di bawah inisiatif dan bimbingan guru-guru, dan kerasnya tekanan psikologis menghadapi Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), perolehan total NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya tidak terlalu menggembirakan : terselip diantara angka 31 dengan 33. Dengan perolehan NEM seperti itu, saya tidak berhasil masuk di sekolah menengah atas (SMA) Negeri yang difavoritkan oleh seantero warga masyarakat di kabupaten kami. Saya harus puas, dan akhirnya bersyukur sekali, masuk SMAN 2 Praya yang baru dibuka pada tahun saya masuk SMA, yaitu tahun pelajaran 1985 – 1986.

Alhamdulillah, prestasi akademis di SMAN 2 Praya cukup moncer. Selama dua semester di kelas 1, nasib menempatkan saya di peringkat ke-4 di kelas. Sepertinya, begitu. Di semester pertama kelas 2, peringkat saya terkoreksi menjadi peringkat ke-2 walaupun total raihan nilai sama dengan penikmat peringkat pertama. Saya ditempatkan di urutan kedua, dari sas-sus yang beredar, antara lain karena saya berstatus sebagai pendatang baru di kelas pilihan akhir. Ya, saya memang pindah kelas dari kelas fisika (A1) ke kelas Program Budaya dan Bahasa (A4) dua atau satu minggu menjelang ulangan semester pertama.

Di kelas pilihan tersebut saya bisa mengembangkan bakat dan minat seperti di bidang bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, sastra Indonesia, sastra Melayu dan ilmu-ilmu sosial semisal sosiologi dan geografi, termasuk sejarah. Kelas pilihan ini mengantar saya menempati peringkat pertama di kelas sejak semester 2 kelas 2 hingga tamat. Bahkan saya menjadi peraih NEM tertinggi di sekolah saya. Alhamdulillahnya lagi, saya diterima masuk perguruan tinggi tanpa tes, yakni melalui jalur seleksi PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan). Perguruan tingginya di luar daerah NTB. Jurusannya, untuk ukuran di desa saya, cukup mentereng : Bahasa Inggris. Jadilah saya menjadi orang pertama di kampung saya kuliah jurusan bahasa Inggris di luar daerah, tepatnya di Universitas Udayana, Bali.

Kata orang, masa-masa di SMA adalah masa-masa yang penuh kenangan, dalam suka maupun duka. Saya pun merasakan hal seperti itu. Rasa “suka” itu dikarekan capaian-capaian akademis sebagaimana saya paparkan di atas. Sementara rasa ‘duka” tercipta karena secara ekonomis dan sosial diremenkan oleh seorang ibu yang orangtuanya tak lain adalah tetangga saya di kampung. Ringkasan ceritanya sebagai berikut.

Sewaktu mau naik ke kelas 3 SMA, sekolah mengundang orangtua atau wali murid untuk mengambil rapor anaknya masing-masing. Karena keterbatasan ekonomi, wawasan dan kesempatan, bapak saya tidak bisa datang untuk mengambil rapor. Ibu jelas tidak bisa datang karena beliau telah meninggalkan saya menghadap Illahi Robbi sewaktu saya masih sangat belia sehingga wajahnya tidak dapat saya simpan dalam memori saya. Lalu, apakah “perempuan” yang meremehkan itu yang datang mewakili orangtua saya untuk menganmbil rapor kenaikan kelas saya? Tidak!

Yang datang adalah adiknya, sama-sama perempuan, senior satu tingkat semasa di SMP. Senior ini sesungguhnya siswi salah satu SMA Swasta di kota Mataram, Ibukota Provinsi NTB. Pada hari pembagian rapor itu, entah untuk keperluan apa, mungkin sehabis menerima rapor kenaikan kelas juga di Mataram, sang senior itu ke sekolah saya, masih mengenakan seragam putih abu. Oh, ya, saya baru ingat, sang senior datang ke SMA saya untuk mengambilkan rapor adiknya yang satu tingkat di bawah saya, di SMA yang sama. Melihat sang senior yang mungkin sudah selesai mengambilkan rapor adiknya, dan karena tidak ada pilihan lain agar rapor bisa saya bawa pulang kampung, akhirnya saya meminta bantuan sang senior untuk menemui wali kelas saya, Pak Kamali, untuk mengambil rapor. Alhamdulillah, diperbolehkan.

Ketika sudah keluar dari ruang kelas tempat pembagian rapor, sambil menyodorkan rapor dan tersenyum, sang senior (kurang lebih) berkata, “Selamat, ya. Hebat!”. Saya pun dapat menduga-duga penyebabnya. Yakni, bahwa nilai semester 2 saya berhasil mendepak peringkat pertama di semester 1 yang lalu. Dan ternyata, benar!

Sepertinya berita kesuksesan itulahlah yang diceritakan atau dibisikkan oleh sang senior kepada kakaknya saat secara kebetulan melintas dekat rumahnya. Perempuan itu, kakanya itu, dengan suara yang cukup jelas membentur genderang kedua telinga saya, berkata (dalam bahasa Sasak, kurang lebih), “Timakn sak hebat, timakn sak penter, care nane, mum edak kepeng jek demak jeri ape-ape.” Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini, “Walaupun hebat, walaupun pintar, di zaman seperti sekarang ini, kalau tidak punya uang, tidak akan jadi apa-apa”. Dari nadanya dan segala konteks sosial-ekonomis yang melingkupi saat itu, frase “tidak (akan) jadi apa-apa” itu lebih merujuk pada “menjadi pegawai negeri” alias PNS (Pegawai Negeri Sipil). Saya bisa memastikan bahwa berkata seperti itu merupakan sesuatu yang disengaja karena saya sedang melintas dekat rumahnya. Dan saya lihat, perempuan itu melirik ke arah saya juga.

Saat itu, menengar kata-kata seperti itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba menelan kata-katanya. Semua serba fakta. Bahwa saya dikatakan ‘hebat’, itu kata-kata adiknya. Saya dianggap ‘pintar’, ya, mungkin karena data-data di rapot SMA saya, yang dilihat sang senior. Dan bahwa kami orang tak berpunya secara ekonomis, sudah bukan menjadi rahasia umum, paling tidak, bagi orang-orang di kampung saya dan sekitarnya. Apakah kata-kata itu menjadi bara dendam, pembakar amarah, atau pemicu semangat, entahlah! Saya tidak tidak tahu, saya tidak bisa memastika secara mutlak.

Yang pasti, waktu berlalu. Dengan status sebagai lulusan pamucak pada jurusan bahasa inggris angkatan terakhir Diploma 3 FKIP Universitas Udayana, saya mendapatkan ‘reward (hadiah)’ untuk diangkat sebagai guru negeri (PNS) tahun berikutnya dan ditempatkan di sekitar kampus supaya bisa melanjutkan ke jenjang program Sarjana Strata 1 (S1). Alhamdulillah, tahun 1992, Surat Keputusan (SK) CPNS pengangkatan saya sebagai guru SMA keluar, diperbantukan di SMA PGRI 2 Buleleng, Singaraja, Bali. Tahun 1996, studi S1 saya kelar. Tahun 2002, bersama keluarga, saya bisa pulang kampung dan bertugas di SMAN 3 Mataram. Tahun 2015, saya diangkat sebagai kepala sekolah (Kepsek) di SMPN 17 Mataram, lalu tahun berikutnya dipromosi ke SMPN 12 Mataram.

Selanjutnya, tahun 2021, karena nasib dan takdir Allah azza wajalla – bukan parena pintar apalagi mumpuni, saya dinyatakan lulus seleksi sebagai Kepsek untuk Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) dengan rencana awal penempatan di Sekolah Indonesia Makkah (SIM), lalu dialihkan ke Sekolah Indonesia Riyadh (SIR). Walaupun tidak jadi tinggal di Makkah, alhamdulillah, kadarullah, saya berserta keluarga bisa berkali-kali ke Makkah, baik untuk keperluan berhaji bersama istri dan mengumrahkan keempat orang anak kami, lebih dari sekali. Bahkan cuti tahunan pada 2022 dan 2023 pun dilewati di Kota Suci umat Islam itu.

Insha Allah, perempuan yang meremehkan saya tahu semua capaian-capaian di atas. Saya berani memastikan itu. Yang tidak berani saya pastikan adalah apakah perempuan itu masih ingat kata-katanya yang meremehkan orang lain itu. Saya juga tidak bisa memastikan apa yang akan dikatakan dan/atau seperti apa gelagatnya jika kami bertemu setelah saya sudah pulang kampung nanti. Apakah ia akan diam seribu basa, menundukkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya, atau kepalanya akan tetap tegak (terkesan ‘pongah’ atau sombong) seperti ketika mengeluarkan kata-kata yang merendahkan dulu itu? Entahlah! Jika saya dan dia masih sama-sama sehat dan diberi umur panjang, insha Allah sampai akhir 2024 ini, insya Allah kami pasti bersua.

Maafkan, saya terpaksa mengungkapkan semua ini. Tujuannya bukan untuk memuntahkan rasa dendam-amarah-kesumat atau menjelek-jelekkan. Melainkan, melalui tulisan ini – dan semoga sempat dibaca yang bersangkutan -- saya mengingatkan dan menyadarkan perempuan itu -- dan orang-orang seperti  dia --  agar tidak tidak meremehkan orang lain lagi, terutama anak-anak yang sudah berakal dan masih punya potensi menggunung berkali-kali besarnya Gunung Renjani (di Lombok) untuk berkembang dan menuai sukses dunia dan akhirat. Meremehkan adalah wujud kesombongan yang sangat dimurkai Allah Sang Penguasa Alam Dunia – Akhirat.

Sekali lagi, maafkan saya, ya, Kak Tuan*. Jangan sombong lagi, nggeh?! PeaceI!!

 

Catatan :

·       *Panggilan hormat untuk senior yang sudah berhaji di Lombok

 

Riyadh, 14 Maret 2024

Dilpomatic Quarter (DQ), Riyadh, Arab Saudi

Mustajib

Simple man. Having 4 children from 1 wife. Civil Servant.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama