Kisahku Menjadi Guru


Kisahku Menjadi Guru
Oleh
Mustajib


Pengantar :
Salah satu kebahagiaan bagi seorang penulis, terutama penulis pemula seperti saya pribadi, adalah terpublikasikan hasil karyanya di media massa seperti koran, majalah dan lain sebagainya. Termasuk juga ketika tulisannya dimuat di media lain seperti buku antologi. Rasa bahagia dan rasa syukur tetap bersemi ketika terbit buku "Kisah Sang Guru, Antologi Kisah Inspiratif Guru" (Kamila Press, September 2024) yang di dalamnya termuat tulisan saya 'Kisahku Menjadi Guru'. Kisah selengkapnya sebagai beriku :

 

MENJADI guru, sesungguhnya bukanlah cita-cita pertama saya. Menjadi guru adalah sebuah “pelarian” yang disadari sepenuhnya. Apakah memilih, memperjuangkan  dan/atau menjalani guru sebagai pelarian membawa duka atau berbuah penuh barokah? Berikut kisahnya, dari awal sampai akhir.

Sebagai anak dari petani sederhana, bahkan pernah dilabeli sebagai buruh tani saat meminta surat keterangan tidak mampu di kantor kepala desa, menjadi pengawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN) pada umumnya dan guru pada khususnya tidaklah terjadi begitu saja, lancar tanpa kendala, alias semudah membalikkan telapak tangan sambil berkata “sim salabim aba kadabra”. Ada proses yang tidak mudah. Ada pergeseran cita-cita. Juga ada serangkaian ikhtiar “serius”, terutama, bersama para ‘sponsor’, yang terlihat maupun yang tidak kasat mata.

Menjadi guru bukanlah cita-cita sejak awal. Di era 1976 sampai dengan 1982, saat bersekolah di sekolah dasar (SD), untuk menjadi guru SD saja, seseorang harus menamatkan sekolah pendidikan guru (SPG) atau sederajat. Itu berarti seorang tamatan SD harus bersekolah enam tahun lagi untuk bisa memenuhi syarat sebagai guru SD. Tiga (3) tahun dihabiskan untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP)  dan tiga (3) tahun berikutnya di SPG atau sejenisnya.

Bersekolah selama enam (6) tahun tentu butuh tenaga, dan terutama biaya, yang tidak sedikit. Sepertinya, secara naluriah, itulah yang menjadikan alasan tak terucapkan (unspoken-up reason) bagi  kami keluarga untuk tidak memilihkan guru sebagai cita-cita saya. Seperti sudah disampaikan di atas, saya terlahir dari keluarga petani yang sederhana. Almarhum bapak saya memang punya sawah sekitar 110 are. Tapi almarhum harus menghidupi lima (5) orang anggota keluarga, yaitu istrinya (ibu sambung saya) dan kami empat (4) bersaudara. Sawahnya merupakan sawah tadah hujan dan jauh dari saluran irigasi yang reguler mengalirkan air pertanian.

Sejujurnya, sewaktu bersekolah di jenjang SD, sejak secara resmi ditanya cita-cita sewaktu kelas tiga -- kalau tidak salah, saya bercita-cita menjadi ‘tentara’ (TNI-AD). Pada waktu itu, setelah tamat SD, kita bisa langsung melamar menjadi tentara. Jika mujur, kita bisa langsung diterima menjadi prajurit dengan pangkat “balok merah datar satu”. Karenanya, dengan bercita-cita dan menjadi tentara tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk bersekolah di sekolah lanjutan jenjang SMP dan/atau SPG.

Keinginan menjadi menjadi guru itu muncul ketika saya di SMP sewaktu di kelas dua (2), jika tidak salah ingat. Pemotivasinya adalah seorang guru bahasa Indonesia bernama Herpan. Cara atau gaya mengajarnya sangat bagus, sangat impresif, dan sangat bersemangat. Beliau adalah alumni Diploma Satu (D1). Artinya, untuk menjadi guru SMP seperti beliau, setelah tamat SMP, sesorang harus melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA) selama tiga tahun dan ke D1 selama satu (1) atau (2) tahun. Namun saat itu, saya tidak membayangkan diri menjadi guru di SMP nantinya. Saat itu, dengan penuh kesadaran, di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ingin menjadi guru, khususnya jadi guru mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia, tapi di jenjang SMA.

Alhamdulillah, setelepas SMP, walau berbagai rintangan yang ada, termasuk kendala finansial, almarhum bapak tidak “merestui” saya melanjutkan ke SPG. Tapi harus ke SMA. Ketiadaan restu bagi saya untuk melanjutkan di SPG bukan karena bapak saya tidak menaruh hormat pada guru SD, melainkan lebih karena alasan potensi penempatan. Menurut pengakuannya, jika menjadi guru SD, potensi atau kemungkinan penempatannya bisa di pelosok-pelosok pulau yang terpencil, yang berarti sulit dijangakau dan/atau jauh dari rumah atau desa asal. Namun, jika menjadi guru SMP (setelah tamat D1 atau D2), minimal akan ditempatkan di desa.

Pada waktu itu, SMP minimal berlokasi di desa. Apalagi kalau menjadi guru SMA, pada saat itu, tahun 1980-an, SMA paling terisolir berada di kota kecamatan. Di tahun 1980 akhir itu, hanya ada dua (2) SMA (negeri) yang ada di kabupaten saya : satu SMA Negeri Praya dan satu SMA Negeri di Kecamatan Kopang. Baru setelah saya masuk SMA (Tahun Pelajaran 1985 – 1986) berdiri SMA Negeri 2 Praya dan SMA Negeri Ubung Kecamatan Jonggat.

‘Tidak ada yang kekal selain perubahan itu sendiri,’ demikian bunyi ungkapan bijak. Ungkapan ini tidak hanya berlaku pada perubahan orientasi cita-cita saya yang semula ingin menjadi tentara menjadi guru, melainkan juga berlaku pada perubahan orientasi pada guru mapel,  yang semula bercita-cita menjadi guru bahasa Indonesia lalu kemudian menjadi guru bahasa Inggris. Di SMA minat saya sangat condong ke bahasa Inggris. Kecenderungan baru ini sepertinya menyenangkan perasaan almarhum bapak saya. Saat di SMA ini, almarhum bapak – yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi bisa membaca huruf Arab dan sedikit huruf latin, memberi ketegasan orientasi keberlanjutan pendidikan saya.

Beliau menegaskan, jika saya diterima kuliah di perguruan tinggi negeri maka beliau akan mendukungnya dengan segala upaya. Jika di perguruan tinggi swasta, disarankan lebih baik tidak usah kuliah. Sikap ini bukannya karena tidak respek terhadap perguruan tinggi swasta, melainkan karena, lagi-lagi, terkait dengan biaya. Beliau faham, mungkin berdasarkan informasi-informasi yang didengar dari orang-orang, bahwa biaya kuliah di perguruan tinggi swasta jauh lebih mahal dibandingkan dengan di perguruan tinggi negeri.

Karena ketegasan sikap tersebut, yakni boleh kuliah asal negeri dan sebisa mungkin di perguruan tinggi yang memungkinkan untuk menghemat biaya, maka di suatu kesempatan, setelah saya menceritakan, guru mapel Sejarah saya (Lalu Mawardi) menemui almarhum Bapak saya untuk membujuk beliau agar berkenan menguliahkan saya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Malang, Jawa Timur. Diyakinkan oleh guru saya itu, jika tidak salah ingat, bahwa dengan kuliah di luar daerah, saya tidak sering pulang kampung jika dibandingkan dengan kuliah di daerah sendiri. Oleh karenanya, pilihan ini menghemat biaya. Diyakinkan pula bahwa biaya hidup di Malang sangat terjangkau.

Saat menjelang tamat dari SMA, khususnya saat mengisi formulir masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK), saya dihadapkan pada dua (2) pilihan. Pertama, apakah akan kuliah di luar daerah (Malang, IKIP Malang) atau di daerah sendiri, yakni di Mataram (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan/FKIP Universitas Mataram). Dengan hasil pemikiran dan/atau pertimbangan sendiri, almarhum Bapak memutuskan untuk tidak kuliah di Malang. Alasannya, tempatnya jauh kalau ingin menjenguk. Namun, keputusan ini tidak serta merta menetapkan untuk harus memilih kuliah di Mataram. Hal ini terutama terkait dengan pilihan kedua: apakah akan mengambil jenjang sarjana (S1) atau Diploma.

Ada keinginan untuk melihat saya menjadi seorang sarjana (S1), sehingga bisa mengajar di SMA. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran cadangan potensi pembiayaan tidak akan mencukupi terlebih-lebih karena untuk menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) minimal memakan waktu empat (4) tahun. Sesujatinya, dan itu diungkapkan sendiri, ada kekhawatiran jika saya kuliah di daerah sendiri. Kekhawatiran yang dimaksud adalah, mau tidak mau, diinginkan atau tidak, saya dianggap akan sering pulang terutama jika “perbekalan” tidak lancar saat cadangan bekal yang dibawa sebelumnya sudah menipis, habis dan tambahan belum juga datang. Dengan seringnya pulang seperti ini dikhawatirkan akan ‘membelokkan” orientasi dan/atau melemahkan semangat: dari semangat belajar atau kuliah menjadi “semangat” atau keinginan untuk segera nganten alias berumah tangga.

Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai hal, termasuk mendengar pendapat dan masukan keluarga dan saudara-saudara yang lain, diputuskanlah untuk kuliah di Bali (FKIP Universitas Udayana/Unud) dengan mengambil program Diploma Tiga (D3) Pendidikan Bahasa Inggris. Alasannya cukup rasional: masa studi cuma tiga tahun -- artinya pasti lulus setelah tiga tahun, alumni D3 masih bisa diterima untuk mengajar di SMA (sesuai cita-cita), dan jika ingin menjenguk, dirasakan tidak terlalu jauh dan berbiaya mahal. Akhirnya, saat mengisi formulir PMDK, saya memilih D3 FKIP Unud dan S1 di FKIP Universitas Mataram (Unram), sama-sama konsentrasi pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Dukungan almarhum Bapak terhadap keputusan ini terlihat begitu besar terutama dari aspek spiritual. Saat itu, ujian akhir jenjang SMA, yang waktu itu dikenal dengan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), berlangsung pada bulan puasa Ramadhan. Saya dan almarhum bapak seakan-akan berlomba-lomba untuk berdoa agar diberikan yang terbaik, yakni lulus SMA dengan nilai Ebtanas terbaik, masuk perguruan tinggi tanpa tes – yakni, melalaui jalur PMDK, dan ditempatkan pada program yang pas (D3 atau S1) sesuai pencanraan Allah azza wajalla atas potensi pembiayaan dan kemudahan mendapat pekerjaan di kemuadian hari.

Di setiap sholat wajib dan sholat tharawih serta witir yang kami laksanakan secara berjamaah di mushalla, untaian doa-doa itu begitu terasa di antara batin kami. Begitu juga di saat qiyamul lail, terutama sholat hajat setelah jam 12 malam dan/atau menjelang sholat subuh, kebersama-samaan mendoakan hasil akhir terbaik dari tiga target perantara (temporary targets) itu begitu kental terasa dan terlihat. Jika saya belum bangun, misalnya, almarhum bapak akan membangunkan saya. Lalu, sama-sama mendirikan sholat hajat dan berdoa sesuai intensitas kekhusukkan kami masing-masing. Beberapa hari selepas Idhul Fitri, pengumuman kelulusan SMA dan diterima tidaknya melalui jalur PMDK pun tiba. Kebahagiaan menyembul dari tiga sumber: Lulus SMA, peraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi dan diterima di D3 FKIP Unud.

Selama menjalani masa studi D3 di Bali itu, tepatnya di Kampus FKIP Unud di Singaraja, perjuangan bertahan hidup dan bertahan untuk tetap studi di Bali penuh lika-liku dan menguras perhatian, tenaga dan biaya. Jujur, jatah dana untuk menyelesaikan studi hanya cukup sampai semester empat (4). Di semester lima (5) dan enam (6), di saat perlu biaya tambahan antara lain untuk keperluan biaya Praktik Program Lapangan (mengajar) dan studi banding ke Jakarta-Bandung dan Jogjakarta, almarhum bapak seratus persen meminjam dana talangan (hutangan) dari salah salah seorang keluarga dekat. Ujian hidup dan aneka cobaan selama studi terasa begitu berat.

Alhamdulillah, hasil tidak menghianati proses. Entah secara kebetulan atau tidak, yang jelas Allah azza wajalla menakdirkan saya sebagai lulusan terbaik (peringkat 1) di kelas. Sesuai dengan tradisi di Program Diploma FKIP Unud, lulusan terbaik, siapa pun dan dari mana pun ia, asalkan yang bersangkutan memilih penempatan di Bali, pasti diperjuangkan untuk diangkat menjadi PNS atau ASN sesegera mungkin dan diupayakan ditempatkan di sekitar kampus atau yang masih relatif mudah terjangkau ke kampus dengan maksud agar bisa melanjutkan studinya, menyelesaikan jenjang S1-nya.

Alhamdulillah, setahun setelah lulus D3, tepatnya bulan Maret tahun 1992, Surat Pengangkatan saya sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) keluar. Saya dipekerjakan sebagai guru SMA di SMA PGRI 2 Buleleng yang berjarak sekitar 300 – 400 meter dari kampus. Tahun 1994 keluar SK PNS. Tahun 1996 selesai S1. Tahun 1998 pindah ke SMAN 3 Singaraja karena SMA swasta tempat mengajar sebelumnya tutup.

Tepat tahun 2002 saya “diizinkan” pulang kampung (mutasi) dengan sistem tukar guling dengan salah seorang guru dari SMA Negeri 3 (Smanti) Mataram. Setelah mengabdi selama 12 tahun di Smanti Mataram, tepat tahun 2015, saya dipercayakan sebagai Kepala SMP Negeri 17 Mataram. Setahun kemudian, saya dipromosikan ke SMP Negeri 12 Mataram. Empat (4) tahun berikutnya, tahun 2020, alhamdulillah, saya dinyatakan lulus dalam seleksi nasional pemilihan (calon) kepala sekolah untuk Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN). Tahun 2021 sampai dengan 2024 saya bertugas sebagai kepala sekolah di Sekolah Indonesia Riyadh (SIR).

Bertugas di Riyadh, dan tinggal bersama seluruh anggota keluarga, memungkinkan kami sekeluarga (berenam) untuk melaksanakan beberapa kali umrah ke Tanah Suci Makkah Al Mukarramah dan berziarah ke masjid Nabawi di kota Madinah Al Munawarrah.  Karunia Allah azza wajalla untuk saya dan istri berhaji tahun 2022 terasa menggenapkan segala cita-cita dan sekaligus menghapus kekhawatiran mau jadi apa, atau diposisikan sebagai apa, nantinya setelah kembali ke Tanah Air Indonesia pada 31 Juli 2024. Insya Allah, tidak terlalu khawatir. Allah azza wajalla telah dan akan mengatur segala-galanya setelah saya mengikhtiarkan yang terbaik. Ini semua, saya rasakan, karena (memilih) menjadi guru.

Wallahu’alam bish-shawab.

 

Riyadh, 7 Juni 2024

Mustajib

Simple man. Having 4 children from 1 wife. Civil Servant.

2 Komentar

  1. Subhanallah! Luar. Biasa! Wilujeng Pa! Saya sempat ngobrol dg Pa Dr Endang Kasupardi tentang Bp. Barokalloh!

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama