MENJADI guru,
sesungguhnya bukanlah cita-cita pertama saya. Menjadi guru adalah sebuah
“pelarian” yang disadari sepenuhnya. Apakah memilih, memperjuangkan dan/atau menjalani guru sebagai pelarian
membawa duka atau berbuah penuh barokah? Berikut kisahnya, dari awal sampai
akhir.
Sebagai anak
dari petani sederhana, bahkan pernah dilabeli sebagai buruh tani saat meminta
surat keterangan tidak mampu di kantor kepala desa, menjadi pengawai negeri
sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN) pada umumnya dan guru pada
khususnya tidaklah terjadi begitu saja, lancar tanpa kendala, alias semudah
membalikkan telapak tangan sambil berkata “sim salabim aba kadabra”. Ada proses
yang tidak mudah. Ada pergeseran cita-cita. Juga ada serangkaian ikhtiar “serius”,
terutama, bersama para ‘sponsor’, yang terlihat maupun yang tidak kasat mata.
Menjadi guru
bukanlah cita-cita sejak awal. Di era 1976 sampai dengan 1982, saat bersekolah
di sekolah dasar (SD), untuk menjadi guru SD saja, seseorang harus menamatkan
sekolah pendidikan guru (SPG) atau sederajat. Itu berarti seorang tamatan SD
harus bersekolah enam tahun lagi untuk bisa memenuhi syarat sebagai guru SD.
Tiga (3) tahun dihabiskan untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan tiga (3) tahun berikutnya di SPG atau
sejenisnya.
Bersekolah
selama enam (6) tahun tentu butuh tenaga, dan terutama biaya, yang tidak
sedikit. Sepertinya, secara naluriah, itulah yang menjadikan alasan tak
terucapkan (unspoken-up reason) bagi
kami keluarga untuk tidak memilihkan guru sebagai cita-cita saya. Seperti
sudah disampaikan di atas, saya terlahir dari keluarga petani yang sederhana. Almarhum
bapak saya memang punya sawah sekitar 110 are. Tapi almarhum harus menghidupi
lima (5) orang anggota keluarga, yaitu istrinya (ibu sambung saya) dan kami
empat (4) bersaudara. Sawahnya merupakan sawah tadah hujan
dan jauh dari saluran irigasi yang reguler mengalirkan air pertanian.
Sejujurnya, sewaktu bersekolah di
jenjang SD, sejak secara resmi ditanya cita-cita sewaktu kelas tiga -- kalau
tidak salah, saya bercita-cita menjadi ‘tentara’ (TNI-AD). Pada waktu itu, setelah
tamat SD, kita bisa langsung melamar menjadi tentara. Jika mujur, kita bisa
langsung diterima menjadi prajurit dengan pangkat “balok merah datar satu”. Karenanya,
dengan bercita-cita dan menjadi tentara tidak perlu mengeluarkan biaya lagi
untuk bersekolah di sekolah lanjutan jenjang SMP dan/atau SPG.
Keinginan menjadi menjadi guru itu
muncul ketika saya di SMP sewaktu di kelas dua (2), jika tidak salah ingat. Pemotivasinya
adalah seorang guru bahasa Indonesia bernama Herpan. Cara atau gaya mengajarnya
sangat bagus, sangat impresif, dan sangat bersemangat. Beliau adalah alumni
Diploma Satu (D1). Artinya, untuk menjadi guru SMP seperti beliau, setelah
tamat SMP, sesorang harus melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA) selama
tiga tahun dan ke D1 selama satu (1) atau (2) tahun. Namun saat itu, saya tidak
membayangkan diri menjadi guru di SMP nantinya. Saat itu, dengan penuh
kesadaran, di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ingin menjadi guru,
khususnya jadi guru mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia, tapi di jenjang
SMA.
Alhamdulillah, setelepas SMP, walau
berbagai rintangan yang ada, termasuk kendala finansial, almarhum bapak tidak
“merestui” saya melanjutkan ke SPG. Tapi harus ke SMA. Ketiadaan restu bagi
saya untuk melanjutkan di SPG bukan karena bapak saya tidak menaruh hormat pada
guru SD, melainkan lebih karena alasan potensi penempatan. Menurut
pengakuannya, jika menjadi guru SD, potensi atau kemungkinan penempatannya bisa
di pelosok-pelosok pulau yang terpencil, yang berarti sulit dijangakau dan/atau
jauh dari rumah atau desa asal. Namun, jika menjadi guru SMP (setelah tamat D1
atau D2), minimal akan ditempatkan di desa.
Pada waktu itu,
SMP minimal berlokasi di desa. Apalagi kalau menjadi guru SMA, pada saat itu,
tahun 1980-an, SMA paling terisolir berada di kota kecamatan. Di tahun 1980
akhir itu, hanya ada dua (2) SMA (negeri) yang ada di kabupaten saya : satu SMA
Negeri Praya dan satu SMA Negeri di Kecamatan Kopang. Baru setelah saya masuk
SMA (Tahun Pelajaran 1985 – 1986) berdiri SMA Negeri 2 Praya dan SMA Negeri
Ubung Kecamatan Jonggat.
‘Tidak ada yang
kekal selain perubahan itu sendiri,’ demikian bunyi ungkapan bijak. Ungkapan
ini tidak hanya berlaku pada perubahan orientasi cita-cita saya yang semula
ingin menjadi tentara menjadi guru, melainkan juga berlaku pada perubahan
orientasi pada guru mapel, yang semula
bercita-cita menjadi guru bahasa Indonesia lalu kemudian menjadi guru bahasa
Inggris. Di SMA minat saya sangat condong ke bahasa Inggris. Kecenderungan baru
ini sepertinya menyenangkan perasaan almarhum bapak saya. Saat di SMA ini,
almarhum bapak – yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi bisa
membaca huruf Arab dan sedikit huruf latin, memberi ketegasan orientasi
keberlanjutan pendidikan saya.
Beliau
menegaskan, jika saya diterima kuliah di perguruan tinggi negeri maka beliau
akan mendukungnya dengan segala upaya. Jika di perguruan tinggi swasta, disarankan
lebih baik tidak usah kuliah. Sikap ini bukannya karena tidak respek terhadap
perguruan tinggi swasta, melainkan karena, lagi-lagi, terkait dengan biaya.
Beliau faham, mungkin berdasarkan informasi-informasi yang didengar dari
orang-orang, bahwa biaya kuliah di perguruan tinggi swasta jauh lebih mahal
dibandingkan dengan di perguruan tinggi negeri.
Karena
ketegasan sikap tersebut, yakni boleh kuliah asal negeri dan sebisa mungkin di
perguruan tinggi yang memungkinkan untuk menghemat biaya, maka di suatu
kesempatan, setelah saya menceritakan, guru mapel Sejarah saya (Lalu Mawardi)
menemui almarhum Bapak saya untuk membujuk beliau agar berkenan menguliahkan
saya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Malang, Jawa Timur.
Diyakinkan oleh guru saya itu, jika tidak salah ingat, bahwa dengan kuliah di
luar daerah, saya tidak sering pulang kampung jika dibandingkan dengan kuliah
di daerah sendiri. Oleh karenanya, pilihan ini menghemat biaya. Diyakinkan pula
bahwa biaya hidup di Malang sangat terjangkau.
Saat menjelang
tamat dari SMA, khususnya saat mengisi formulir masuk perguruan tinggi negeri
melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK), saya dihadapkan pada dua
(2) pilihan. Pertama, apakah akan kuliah di luar daerah (Malang, IKIP Malang)
atau di daerah sendiri, yakni di Mataram (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan/FKIP
Universitas Mataram). Dengan hasil pemikiran dan/atau pertimbangan sendiri,
almarhum Bapak memutuskan untuk tidak kuliah di Malang. Alasannya, tempatnya
jauh kalau ingin menjenguk. Namun, keputusan ini tidak serta merta menetapkan
untuk harus memilih kuliah di Mataram. Hal ini terutama
terkait dengan pilihan kedua: apakah akan mengambil jenjang sarjana (S1) atau
Diploma.
Ada keinginan untuk melihat saya menjadi
seorang sarjana (S1), sehingga bisa mengajar di SMA. Namun di sisi lain, ada
kekhawatiran cadangan potensi pembiayaan tidak akan mencukupi terlebih-lebih
karena untuk menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) minimal memakan waktu empat
(4) tahun. Sesujatinya, dan itu diungkapkan sendiri, ada kekhawatiran jika saya
kuliah di daerah sendiri. Kekhawatiran yang dimaksud adalah, mau tidak mau,
diinginkan atau tidak, saya dianggap akan sering pulang terutama jika
“perbekalan” tidak lancar saat cadangan bekal yang dibawa sebelumnya sudah
menipis, habis dan tambahan belum juga datang. Dengan seringnya pulang seperti
ini dikhawatirkan akan ‘membelokkan” orientasi dan/atau melemahkan semangat:
dari semangat belajar atau kuliah menjadi “semangat” atau keinginan untuk
segera nganten alias berumah tangga.
Akhirnya, setelah mempertimbangkan
berbagai hal, termasuk mendengar pendapat dan masukan keluarga dan
saudara-saudara yang lain, diputuskanlah untuk kuliah di Bali (FKIP Universitas
Udayana/Unud) dengan mengambil program Diploma Tiga (D3) Pendidikan Bahasa
Inggris. Alasannya cukup rasional: masa studi cuma tiga tahun -- artinya pasti
lulus setelah tiga tahun, alumni D3 masih bisa diterima untuk mengajar di SMA
(sesuai cita-cita), dan jika ingin menjenguk, dirasakan tidak terlalu jauh dan
berbiaya mahal. Akhirnya, saat mengisi formulir PMDK, saya memilih D3 FKIP Unud
dan S1 di FKIP Universitas Mataram (Unram), sama-sama konsentrasi pada jurusan Pendidikan
Bahasa Inggris.
Dukungan almarhum Bapak terhadap
keputusan ini terlihat begitu besar terutama dari aspek spiritual. Saat itu,
ujian akhir jenjang SMA, yang waktu itu dikenal dengan Evaluasi Belajar Tahap
Akhir Nasional (Ebtanas), berlangsung pada bulan puasa Ramadhan. Saya dan
almarhum bapak seakan-akan berlomba-lomba untuk berdoa agar diberikan yang
terbaik, yakni lulus SMA dengan nilai Ebtanas terbaik, masuk perguruan tinggi
tanpa tes – yakni, melalaui jalur PMDK, dan ditempatkan pada program yang pas
(D3 atau S1) sesuai pencanraan Allah azza wajalla atas potensi pembiayaan dan
kemudahan mendapat pekerjaan di kemuadian hari.
Di setiap sholat wajib dan sholat
tharawih serta witir yang kami laksanakan secara berjamaah di mushalla, untaian
doa-doa itu begitu terasa di antara batin kami. Begitu juga di saat qiyamul lail,
terutama sholat hajat setelah jam 12 malam dan/atau menjelang sholat subuh, kebersama-samaan
mendoakan hasil akhir terbaik dari tiga target perantara (temporary targets)
itu begitu kental terasa dan terlihat. Jika saya belum bangun, misalnya, almarhum
bapak akan membangunkan saya. Lalu, sama-sama mendirikan sholat hajat dan
berdoa sesuai intensitas kekhusukkan kami masing-masing. Beberapa hari selepas
Idhul Fitri, pengumuman kelulusan SMA dan diterima tidaknya melalui jalur PMDK
pun tiba. Kebahagiaan
menyembul dari tiga sumber: Lulus SMA, peraih Nilai Ebtanas Murni (NEM)
tertinggi dan diterima di D3 FKIP Unud.
Selama
menjalani masa studi D3 di Bali itu, tepatnya di Kampus FKIP Unud di Singaraja,
perjuangan bertahan hidup dan bertahan untuk tetap studi di Bali penuh
lika-liku dan menguras perhatian, tenaga dan biaya. Jujur, jatah dana untuk menyelesaikan studi hanya cukup sampai
semester empat (4). Di semester lima (5) dan enam (6), di saat perlu biaya
tambahan antara lain untuk keperluan biaya Praktik Program Lapangan (mengajar)
dan studi banding ke Jakarta-Bandung dan Jogjakarta, almarhum bapak seratus
persen meminjam dana talangan (hutangan) dari salah salah seorang keluarga
dekat. Ujian hidup dan aneka cobaan selama studi terasa begitu berat.
Alhamdulillah, hasil tidak
menghianati proses. Entah secara kebetulan atau tidak, yang jelas Allah azza
wajalla menakdirkan saya sebagai lulusan terbaik (peringkat 1) di kelas. Sesuai
dengan tradisi di Program Diploma FKIP Unud, lulusan terbaik, siapa pun dan
dari mana pun ia, asalkan yang bersangkutan memilih penempatan di Bali, pasti
diperjuangkan untuk diangkat menjadi PNS atau ASN sesegera mungkin dan
diupayakan ditempatkan di sekitar kampus atau yang masih relatif mudah
terjangkau ke kampus dengan maksud agar bisa melanjutkan studinya,
menyelesaikan jenjang S1-nya.
Alhamdulillah, setahun setelah lulus
D3, tepatnya bulan Maret tahun 1992, Surat Pengangkatan saya sebagai Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS) keluar. Saya dipekerjakan sebagai guru SMA di SMA
PGRI 2 Buleleng yang berjarak sekitar 300 – 400 meter dari kampus. Tahun 1994
keluar SK PNS. Tahun 1996 selesai S1. Tahun 1998 pindah ke SMAN 3 Singaraja
karena SMA swasta tempat mengajar sebelumnya tutup.
Tepat tahun 2002 saya “diizinkan”
pulang kampung (mutasi) dengan sistem tukar guling dengan salah seorang guru dari
SMA Negeri 3 (Smanti) Mataram. Setelah mengabdi selama 12 tahun di Smanti
Mataram, tepat tahun 2015, saya dipercayakan sebagai Kepala SMP Negeri 17
Mataram. Setahun kemudian, saya dipromosikan ke SMP Negeri 12 Mataram. Empat
(4) tahun berikutnya, tahun 2020, alhamdulillah, saya dinyatakan lulus dalam
seleksi nasional pemilihan (calon) kepala sekolah untuk Sekolah Indonesia di
Luar Negeri (SILN). Tahun 2021 sampai dengan 2024 saya bertugas sebagai kepala
sekolah di Sekolah Indonesia Riyadh (SIR).
Bertugas di Riyadh, dan tinggal
bersama seluruh anggota keluarga, memungkinkan kami sekeluarga (berenam) untuk
melaksanakan beberapa kali umrah ke Tanah Suci Makkah Al Mukarramah dan
berziarah ke masjid Nabawi di kota Madinah Al Munawarrah. Karunia Allah azza wajalla untuk saya dan
istri berhaji tahun 2022 terasa menggenapkan segala cita-cita dan sekaligus
menghapus kekhawatiran mau jadi apa, atau diposisikan sebagai apa, nantinya setelah
kembali ke Tanah Air Indonesia pada 31 Juli 2024. Insya Allah, tidak terlalu
khawatir. Allah azza wajalla telah dan akan mengatur segala-galanya setelah
saya mengikhtiarkan yang terbaik. Ini semua, saya rasakan, karena (memilih) menjadi
guru.
Wallahu’alam bish-shawab.
Riyadh, 7 Juni 2024
Keren Abah Mustajib
BalasHapusSubhanallah! Luar. Biasa! Wilujeng Pa! Saya sempat ngobrol dg Pa Dr Endang Kasupardi tentang Bp. Barokalloh!
BalasHapus