Menikmati Bayangan Sendiri (Sumber bola.com)
Apakah Seminar, Ceramah, atau Berceramah Cerminan Onani Akademik?
Mustajib
Tulisan ini coba merespon saran Sdr. Pak Dr. Ahmad Zamzam,
S.Pd., M.Hum., dalam tulisannya yang berjudul “Akankah Reuni Alumni Undikhsa
NTB Sekadar Onani Akademik?" yang dimuat di blog pribadinya “Let’s Write”, Sabtu,
29 Maret 2025. Respon ini tidak menyasar gatra subtantif, melainkan aspeks
teknisnya saja.
Secara substantif saya sangat sependapat bahwa reuni
alumni Undhiksha NTB yang insya Allah akan digelar di Balai Guru Penggark (NTB)
pada 20 April 2025 mendatang dan terutama kegiagat-kegiatan berikutnya di masa
datang tidak sampai terjebak dalam frame (bingkai) ‘Onani Akademik’.
Saya sereg seratus persen dengan saran-saran yang diapungkan.
Yang agak belum plong bagi saya – sejauh merujuk pada
kutipan dalam tulisan tersebut -- adalah narasi bahwa (setiap)
“seminar, ceramah, atau berceramah lalu pulang membawa sertifikat” termasuk dalam
atau identik dengan kegiatan “onani akademik”.
Pada bagian awal tulisannya, dinarasikan arti
pentingnya keberadaan organisasi alumni perguruan tinggi sebagi bagian integral
dari civitas akademik yang akan menjembatani dunia kampus dengan dunia di
luarnya. Karena penting dan strategisnya peran organisasi alumni maka keberadaan
dan kegiatan-kegiatannya diformat tidak sekadar seremonial, seminar, mendengar
ceramah atau berceramah lalu setelah itu pulang membawa sertifikat. Karena jika
demikian maka kegiatan-kegiatan seperti itu terperangkap ke dalam label – dipinjamkan
istilah dari Prof. Dr. Ir. Wiresapta Karyadi, M.Si. -- ‘onani akademik’.
Merujuk pada kutipan di atas, muncul pertanyaan,
benarkah setiap kegiatan berupa seminar, ceramah, berceramah atau aktivitas-aktivitas
akademik lainnya (lalu setelah selesai pulang membawa sertifikat) merupakan cerminan Onani Akademik? Untuk
menjawabnya, mari kita amati pengertian onani akademik.
Secara umum onani akademik dipahami sebagai istilah
metaforis yang mengkritik praktik-praktik dalam dunia akademis yang dianggap
tidak produktif, egois, atau tidak bermakna. Istilah ini merujuk pada aktivitas
intelektual yang lebih fokus pada kepuasan diri, formalitas, atau pemenuhan
kuantitas semata, tanpa kontribusi nyata terhadap pengetahuan atau masyarakat.
Berdasarkan pemaknaan seperti itu, kegiatan-kegiatan
akademis serupa seminar atau ceramah bisa terbingkai ke dalam onani akademik
maupun non-onani akademik. Parameternya adalah ada atau tidak ada impacts
(dampak atau kontribusi) nyata baik terhadap pengetahuan ataupun masyarakat.
Benar, jika kegiatan-kegiatan tersebut hanya seremonial
atau ‘omon-omon’ alias talk the talk
that talks maka kegiatan-kegiatan tersebut jelas terperangkap ke dalam
onani akademik. Namun jika kegiatan-kegiatan tersebut membawa kontribusi nyata (significant) dan produktif alias walk the talk that talks terhadap pengetahuan atau masyarakat
(paling tidak, mendapatkan suatu teori baru berdasarkan kejadian-kejadian atau
praktik-praktik tertentu/Theorizing the practices) maka jelas kegiatan
tersebut bukan onani akademik.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan (tambahan) di atas,
setidaknya menurut pendapat pribadi saya, tidak selalu setiap pertemuan atau
silaturrahmi akademis – entah itu berupa
ceramah, seminar, focused group discussion, diskusi panel dan lain sebagainya –
serta merta terjerembab ke dalam ceruk onani akademik. Which of which (mana yang mana) sangat
tergantung pada kontribusinya riel terhadap pengetahuan dan masyarakat sesuai
prinsip “Theorizing the Practice and Practice the Theory” dalam arti
luas.
Wallahu’alam bisshawab.
Tulisan yang dirujuk/dikomentari :
https://zamsukarema.blogspot.com/2025/03/akankah-reuni-alumni-undiksha-ntb.html